Layar Smartphone Refresh Rate Tinggi Sekedar Gimmick?



Ketika kita berbicara tentang masa depan layar ponsel, sebagian besar fokusnya adalah pada transisi ke OLED, desain layar tanpa bezel, dan ponsel dengan layar yang dapat ditekuk dan fleksibel. Namun, ada juga tren yang kurang banyak dibicarakan: layar ponsel dengan refresh rate tinggi, refresh rate dinamis, dan dukungan untuk konten High Definition Range (HDR). Sebelum membahas lebih jauh, perlu diketahui refresh rate adalah kecepatan tampilan layar tiap detik.

Tahun ini Galaxy S8 dan LG G6 sudah mendukung beberapa format HDR, dan layar dengan refresh rate 60Hz yang mulus untuk animasi UI, game, dan pemutaran video dengan frame rate tinggi. Ada beberapa ponsel lain dengan teknologi ini, seperti Sharp Aquos yang memiliki kemampuan layar dengan refresh rate 120Hz, dan seri Aquos R terbaru dengan resolusi layar QHD, dukungan HDR10, dan paket Snapdragon 835.

Belum lama ini Apple baru saja meluncurkan iPad Pro terbarunya dengan layar "ProMotion" 120Hz. Apple mengklaim refresh rate 120Hz memungkinkan respons yang lebih mulus saat memperbesar gambar atau scrolling teks. Keuntungan  lain dengan refresh rate tinggi saat main game dan melihat video adalah gerakan yang tampak lebih halus dan lebih mulus tanpa lag.

Meskipun benar refresh rate 120Hz memang membuat gerakan terlihat sedikit halus, paling tidak bagi yang menggunakan monitor PC dengan refresh rate 120 atau 144 Hz, tapi apakah perbedaan ini benar-benar bisa diliat di layar smartphone, dimana dibutuhkan interaksi pada elemen sentuh yang cepat, akurat, dan responsif bukan sekedar layar dengan teknologi tinggi?

Lompatan dari 60Hz sampai 120Hz tidak akan membuat dunia menjadi berbeda saat kamu hanya membuka dan menutup aplikasi atau sekedar melihat-lihat foto. Latency 17ms sudah cukup bagus untuk aktivitas sehari-sehari dan beberapa aplikasi tidak berjalan pada frekuensi 60fps secara konsisten. Namun, lebih cepat lebih baik, dan ketika sampai pada masa di mana kita harus mempertimbangkan teknlogi virtual reality dan augmented reality, adopsi refresh rate yang lebih cepat akan memiliki beberapa keuntungan.

Meningkatkan rasio refresh rate hingga 90Hz atau lebih tidak akan membantu aplikasi yang sudah berjalan di bawah 60fps, yang terkadang menjadi masalah di Android dan iOS. Perlu dicatat bahwa frame rate 120Hz telah didukung di sisi hardware oleh Android, dengan seri Snapdragon 8XX, HiSilicon Kirin 960 terbaru, dan pilihan SoC dari MediaTek dengan Helio X10. Jadi kita tidak perlu menunggu inovasi SoC baru agar teknologi ini bisa menjadi kenyataan.



Namun, sebagian besar perangkat terkunci pada tingkat refresh rate 60Hz oleh software-nya untuk memastikan kinerja yang konsisten dan menghindari layar bergaris (screen tearing), meskipun layarnya mampu menghasilkan refresh rate jauh lebih tinggi. Hal ini dibuktikan ketika ditemukan layar smartphone Samsung yang digunakan di Oculus Rift DK2 mampu berjalan pada 75Hz, bandingkan dengan ponsel Samsung yang menggunakan layar sama hanya mampu berjalan pada 60Hz.

Pada chipset yang lebih baru, kita juga melihat pengenalan teknologi refresh rate adaptif, yang menyesuaikan refresh rate GPU dengan layar. Teknologi ini menghilangkan screen tearing dan layar dapat me-refreash lebih lambat, sehingga menghemat daya, berguna saat menonton video dengan frame rate rendah atau menjalankan aplikasi yang kurang intensif. Teknologi ini sudah tersedia di dalam sejumlah layar berkat teknologi seperti Nvidia G-Sync dan platform terbuka DisplayPort Adaptive-Sync. Snapdragon 835 milik Qualcomm memperkenalkan versinya sendiri yang disebut Q-Sync, yang bekerja dengan prinsip sama. Teknologi refresh adaptif juga menjadi salah satu poin pembicaraan dalam presentasi tablet baru Apple.

Sebagian besar dorongan refresh rate tinggi akibat banyaknya aplikasi virtual reality. Refresh rate yang lebih cepat dapat membantu mengurangi latency.  Android memang sedikit tertinggal dari arena refresh rate ini. Oculus Rift dan HTC Vive memiliki refresh rate 90Hz, Gear VR mentok pada 60Hz dan Google Daydream bervariasi bergantung pada perangkat yang terhubung, namun diperkirakan dikunci hingga 60Hz.



Perlu di ingat, refresh rate lebih tinggi bukanlah jaminan pengalaman VR yang mulus. Bagaimanapun, dibutuhkan output frame rate tinggi secara konsisten yang dapat memproses sensor data dengan cepat. Alasan lain adalah boros daya, panas berlebih, dan banyaknya dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan game atau aplikasi smartphone kelas AAA, membuat teknologi refresh rate yang dibutuhkan VR dan AR progresnya lambat.

Layar dengan refresh rate tinggi dan bervariasi bukan barang baru di jagat game PC dan dorongan terhadap teknologi di sektor mobile juga berkembang. Dukungan hardware sudah siap untuk perangkat mobile, jadi sekarang tinggal bagaimana vendor perangkat lunak pihak ketiga untuk menerapkan dukungan refresh rate tinggi ini. Kedepannya teknologi ini tentunya menjadi hal wajib ketika menyangkut aplikasi virtual reality. Refresh rate 90Hz, 120Hz, atau bahkan tingkat lebih tinggi nantinya menjadi standar untuk smartphone dan suksesnya bergantung pada penetrasi masa depan dan kesuksesan VR dan AR.
puticiro
puticiro

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment